Rabu, 30 Desember 2009

Bencana Situ Gintung Itu Merampas Nyawa Hampir Seluruh Keluarga

Sabtu, 28 Maret 2009 | 00:37 WIB

KOMPAS.com - Kamis malam (26/3) hujan mengguyur deras secara merata daerah Jakarta, Bogor dan Ciputat - Tangerang. Tapi siapa sangka guyuran air hujan itu menjadi awal bencana Jumat kemarin. Tanggul Situ Gitung, Ciputat, Tangerang jebol sekitar jam 5 pagi (27/3).

Keluarga Hasan Sukijat (Liaw Hok Can) yang beralamat di Jl. K.H. Ahmad Dahlan RT. 04/08 Cirendeu, Ciputat, Tangerang pagi itu sudah siap beraktivitas. Kedua anaknya, Apa Mada Sumedo (15), Santi Sumedo (13) sudah bersiap untuk pergi ke sekolah. Mereka terdaftar sebagai murid SMP Charitas Lebak Bulus kelas IX dan VII.

Tapi sayang, mereka tidak pernah sampai ke sekolah. Air yang menerjang tanggul meratakan rumah sekaligus toko bangunan Hasan. Santi ditemukan meninggal dunia bersama dengan Kim Nio (40), ibunya dan Tan Pungut (97), neneknya. Kim Nio meninggal bersama dengan janin yang dikandungnya.

"Saya menemukan Santi sudah berada (disemayamkan) di STIE Ahmad Dahlan, sedangkan Tan Pungut dan Kim Nio (disemayamkan) di Fakultas Hukum Universitas Muhamadiah Jakarta Fakultas Hukum," kata Kim Goan , adik Kim Nio, yang ditemui di Instalasi Forensik dan Perawaan Jenasah (IFPJ) R.S. Fatmawati Jakarta.

Santi, Kim Nio dan Tan Pungut disemayamkan di IFPJ untuk dimandikan dan disuntik formalin. "Tetapi kami masih mencari Apa Mada Sumedo dan Suwaji Sumedo (8 bulan , anak bungsu Hasan), yang sampai saat ini belum diketahui nasibnya," kata Kim Goan.

Hasan memiliki 6 anak dari perkawinannya dengan Kim Nio. Mereka adalah Apa Mada Sumedo (15), Santi Sumedo (13), Cita Vaga Sumedo (9), Mahakuan Sumedo (7), Lian Sumeda (2), Suwaji Sumedo (8 bulan). Selain mereka, di rumah juga ada Tan Pungut, nenek. Mereka yang selamat adalah Hasan, Cita, Mahakuan, dan Lian.

Sampai saat ini Hasan masih di lokasi kejadian untuk mencari Mada dan Suwaji, kata Kim Goan. Itulah mengapa Hasan tidak tampak di IFPJ, tempat istri, ibu dan anaknya disemayamkan.

Menurut Kim Goan daerah rumah Hasan adalah langganan banjir. Tiap tahun 1-2 kali pasti banjir. "Ini adalah yang terparah. Sebelumnya sudah pernah 3 kali banjir bandang yang tingginya sampai ke atap rumah, atau kira-kira setinggi 4 meteran," terangnya.

Di mata keluarga

Meninggalnya 5 anggota keluarga sekaligus membuat keluarga besar Hasan dan Kim Nio kaget bukan kepalang. Hal itu tampak dari ekspresi mereka yang datang di IFPJ. Mereka yang datang kebanyakan adalah saudara Kim Nio.

Yang hadir di sini Sang kakak Kim Lan, Dede isteri Kim Lay (yang saat ini berada di Australia) kakak Kim Nio, dan adik-adiknya; Kim Tai dan Kim Yang. "Yang belum hadir adalah Kim Lay dan Kim Hai (bungsu) yang saat ini masih berada di Australia. Mereka akan datang besok malam," terang Kim Goan, anak kelima.

Di mata Kim Goan, Kim Nio adalah sosok yang sangat kuat. Ia tidak pernah membagikan masalahkan, semua ditangani sendiri. Selain itu, ia itu perhatian dan sayang dengan saudara-saudaranya. "Ia juga deket banget dengan papa," kata Kim Guan dengan pakaian penuh lumpur.

Di antara yang mengunjungi keluarga Hasan, ada Atik. Dia adalah guru TK Charitas Pondok Labu, tempat Mada dan Santi bersekolah. Saya sudah menganggap mereka anak saya. "Keluarganya seperti keluarga saya sendiri," kata Atik yang tak kuasa menahan linangan air mata.

Kim Nio dikenal Atik sebagai sosok ibu rumah tangga yang bertanggungjawab. Selain itu, lanjutnya, almarhumah memiliki jiwa yang teguh dan kuat.

IFPJ semakin sore semakin ramai dikunjung keluarga korban, yang sampai saat ini berjumlah 21 orang. Juga tampak para wartawan yang terus memantau perkembangan korban Situ Gintung. Teriakan histeris para keluarga membuat semakin dalam suasana duka. Tak terkecuali beberapa ABG (Anak Baru Gede) dan dua biarawati yang juga hadir di situ. Ternyata mereka adalah teman Mada dan pengelola SMP Charitas Lebak Bulus tempat Mada dan Santi merintis masa depannya.

Raison, teman dekat Mada, tidak membutuhkan waktu lama untuk menuturkan kesannya pada Mada. "Dia itu orangnya baik. Saya suka diberi makanan," katanya polos.

Belum lepas dari ingatannya, kebersamaan mereka satu angkatan ketika pergi ke Yogyakarta pada 10-13 Maret lalu dalam rangka Karya Wisata. "Waktu itu seru banget. Kami pergi ke Prambanan dan Borobudur," kenang Raison.

Teman sekelas Mada, Adriel, juga memiliki kesan tersendiri terhadap Mada. "Ia itu orangnya pendiam tapi pintar. Sebenarnya saya menyesal dengan kematiannya," kata Adriel. Karena, lanjutnya, selama ini ia sering menyakiti hati Mada.

Kepribadian Mada yang diam juga terekam oleh Pengelola SMP Charitas Lebak Bulus Sr. M. Antonitta, FCh. "Memang dia itu pendiam, anteng . Santi, adiknya, juga sama. Mereka tidak ada masalah selama sekolah di sini," kenang Antonitta.

Rencananya, kata Kim Lan, seluruh jenazah akan dibawa ke Rumah Duka Sinar Kasih, Batu Tulis, Bogor. Di situ akan diadakan upacara keagamaan selama beberapa hari, sambil menunggu saudara-saudaranya yang belum datang. Setelah itu jenazah akan dimakamkan di Gunung Gadung, Panca Maya, Bogor.

Ayu, salah seorang teman dekat Mada sempat melontarkan ekspresi kesedihannya. "Kenapa ya orang baik suka cepet dipanggil," katanya sambil lalu dengan menundukkan kepala.


http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/03/28/00373160/Bencana.Situ.Gintung.Itu.Merampas.Nyawa.Hampir.Seluruh.Keluarga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar